PEMALANG | Cyberpolri.id - (09/08/2025), Lonjakan harga cabai dan gejolak pasokan pupuk kerap disalahkan pada cuaca dan distribusi. Namun, akar persoalan yang jarang disorot adalah ketergantungan industri pupuk Indonesia pada gas alam. Lebih dari 70% biaya produksi amonia—bahan utama urea dan pupuk NPK—bersumber dari gas. Ketika harga gas melonjak, subsidi pupuk bisa membengkak hingga Rp 40 triliun per tahun.
Menteri Pertanian Amran menegaskan, “Jika pasokan pupuk tersendat, biaya tanam meningkat, hasil panen menurun, dan krisis pangan mengancam.”
Untuk itu, dibutuhkan rantai pasok pupuk yang lebih tangguh dan mandiri.
Hidrogen Hijau: Solusi Strategis
Hidrogen hijau—energi bersih yang dihasilkan dari elektrolisis air dengan listrik energi terbarukan—mampu menggantikan gas alam sebagai bahan baku amonia. Teknologi ini tidak hanya menekan emisi karbon, tetapi juga mengurangi ketergantungan distribusi gas antarprovinsi.
Biaya produksi hidrogen hijau global kini mendekati US$ 2,5/kg dan diprediksi turun menjadi US$ 1,5 pada 2030—mendekati harga hidrogen konvensional di Indonesia (US$ 1,7–2).
Produksi lokal juga bisa dilakukan dekat pabrik pupuk atau lahan pertanian terpencil, mengurangi risiko logistik.
Sebagai gambaran, pembangkit surya dan angin 800 MW di NTT dapat menghasilkan 130 ribu ton hidrogen/tahun, cukup untuk memproduksi 750 ribu ton amonia—setara sepertiga kebutuhan urea nasional.
Langkah Nyata yang Bisa Dimulai
Integrasi Bertahap: Pupuk Kujang dan Pupuk Kaltim dapat menambah unit elektroliser 200 MW untuk mengurangi konsumsi gas hingga 25%.
Skema Energi Terintegrasi: Produsen hidrogen menjual listrik ke PLN saat beban rendah, sementara amonia hijau dibeli Pupuk Indonesia dengan insentif lingkungan.
Regulasi & Insentif: Sertifikasi energi terbarukan, insentif fiskal, dan pembebasan bea masuk untuk komponen teknologi hidrogen.
Standar Baru Pupuk: Kementan memperbarui standar nasional pupuk agar produk rendah karbon bisa masuk pasar domestik dan ekspor.
Dampak Besar untuk Indonesia
Jika roadmap ini dijalankan:
Subsidi pupuk bisa turun 30%.
Emisi sektor pupuk berkurang hingga 50% (dari 10 juta ton CO₂e/tahun).
Ketahanan energi meningkat dengan berkurangnya impor gas.
Muncul permintaan besar energi terbarukan dan lapangan kerja baru.
Peluang ekspor amonia hijau ke negara-negara Pasifik terbuka.
Tantangan dan Solusi
Biaya awal, intermitensi energi terbarukan, dan ketersediaan air di daerah kering bisa diatasi dengan obligasi transisi, pembiayaan inovatif, desalinasi berenergi rendah, dan regulasi keselamatan hidrogen yang ketat. Edukasi petani melalui aplikasi e-voucher pupuk rendah emisi juga menjadi kunci.
Kesimpulan
Hidrogen hijau menjembatani dunia petani dan teknologi, menghubungkan desa dengan pusat industri, serta menyatukan agenda kemandirian energi dan kedaulatan pangan.
Dengan regulasi yang pasti dan visi lintas kementerian, Indonesia berpeluang menjadi pelopor pupuk hijau di Asia—menumbuhkan padi di tanah subur, sekaligus harapan bagi generasi masa depan.
Penulis: Susmono (Ramsus)
Editor: Arden73
Sumber: Feiral Rizky Batubara, Pemerhati Kebijakan Publik

