Gara-Gara Kue Manis Tetangga, Jabatan Sekdes Mojoduwur Melayang!

JOMBANG | Cyberpolri.id — Gara-gara “kue manis tetangga”, seorang Sekretaris Desa (Sekdes) di Kabupaten Jombang harus menelan pil pahit. Jabatan yang selama ini dibanggakan lenyap dalam semalam.

Kisah asmara terlarang itu terbongkar pada Jumat dini hari (31/10/2025) dan langsung membuat warga Desa Mojoduwur, Kecamatan Mojowarno,Jombang geger.

Sekdes berinisial L.F., yang dikenal kalem dan disegani, justru membuat heboh karena kedapatan berada di rumah seorang perempuan berinisial M, yang disebut-sebut masih satu lingkungan desa.

Kejadian itu terjadi sekitar pukul 01.00 dini hari, saat warga yang sudah lama curiga akhirnya melakukan penggerebekan.

Suasana malam yang semula tenang mendadak berubah gaduh. Warga yang geram menggiring L.F. ke Balai Desa Mojoduwur untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan perangkat desa dan tokoh masyarakat.

“Selingkuh itu memang seru, tapi kalau ketahuan, tamat sudah!” celetuk salah satu warga dengan nada menggoda.

Menurut keterangan warga, hubungan antara L.F. dan M. sudah lama menjadi bahan perbincangan di warung kopi dan pojokan RT. Namun selama ini tidak ada bukti kuat. Hingga akhirnya malam itu, dugaan yang selama ini berembus terbukti dengan mata kepala sendiri.

“Sudah lama kami tahu, tapi baru malam ini ketangkap basah,” ujar warga yang enggan disebut namanya.

Kepala Desa Mojoduwur, Imam Baihaqi yang turut hadir di lokasi, hanya bisa menghela napas. Ia mengaku kecewa atas tindakan bawahannya yang dianggap telah mencoreng nama baik pemerintahan desa.

“Saya tidak bisa bilang apa-apa. Masyarakat sudah menuntut agar yang bersangkutan mundur,” ucapnya lirih.

Desakan warga agar L.F. mundur dari jabatan semakin menguat. Warga berbondong-bondong memenuhi halaman balai desa hingga menjelang subuh. Suasana semakin panas ketika isu lama tentang “kue manis tetangga” kembali mencuat di tengah kerumunan.

Akhirnya, sekitar pukul 10.00 WIB, L.F. menandatangani surat pengunduran diri secara resmi. Proses itu disaksikan langsung oleh Camat Mojowarno, Babinsa, BPD, dan tokoh masyarakat setempat.

Meskipun tidak berani muncul di hadapan massa, tanda tangan pengunduran diri tetap dilakukan demi menenangkan warga yang menuntut keadilan moral.

“Ini pelajaran berharga buat semua. Jabatan itu bukan tameng untuk main api,” ujar salah satu tokoh masyarakat dengan nada tajam.

Kini, suasana Desa Mojoduwur mulai tenang, meski bisik-bisik masih berseliweran di warung kopi.

Satu hal yang disepakati warga: jabatan bisa datang dari kepercayaan, tapi bisa lenyap seketika hanya karena tergoda kue manis tetangga.

Malam itu mungkin tak tercatat di kalender, tapi akan selalu diingat warga Mojoduwur sebagai malam ketika cinta terlarang menumbangkan jabatan seorang sekdes.



Ririn

SPONSOR
Lebih baru Lebih lama