Warga Binaan Rutan Boyolali Produktif Lewat Pertanian dan Pembinaan Keagamaan

BOYOLALI | Cyberpolri.id — Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Boyolali terus menunjukkan komitmennya dalam melakukan pembinaan bagi para warga binaan. Melalui berbagai kegiatan positif, mulai dari pertanian hingga keagamaan, pembinaan ini diharapkan mampu menumbuhkan kemandirian dan memperkuat nilai spiritual para penghuni rutan.

Dalam kegiatan pemantauan yang dilakukan awak media pada Jumat (24/10/2025), tampak jajaran pejabat Rutan Boyolali ikut mendampingi, antara lain Jita selaku Kepala Seksi Pelaksana, Mirsa sebagai Kepala Satuan Pengamanan, dan Akbar, Kepala Sub Seksi Pelayanan Tahanan. Rutan yang berlokasi di Desa Masahan, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, berdiri di atas lahan seluas 14.000 meter persegi. Dari luas tersebut, sekitar 2.500 meter persegi dimanfaatkan untuk lahan pertanian, sementara sisanya digunakan untuk area bangunan dan fasilitas lainnya.

Kegiatan pertanian menjadi salah satu unggulan pembinaan di Rutan Boyolali. Para warga binaan terlihat aktif menanam berbagai komoditas seperti cabai, timun, ketela, semangka, hingga melon. Tidak hanya sekadar bercocok tanam, mereka juga mempelajari teknik hidroponik. Hasilnya, panen perdana melon berhasil dilakukan setelah proses penanaman selama kurang lebih 70 hari. Aktivitas ini menjadi wadah produktif sekaligus terapi mental bagi warga binaan selama menjalani masa hukuman.

Selain kegiatan di bidang pertanian, pembinaan rohani juga rutin digelar setiap hari. Sejak pagi, para warga binaan mengikuti pengajian dan tadarus Al-Qur’an dengan penuh kekhusyukan. Program ini diharapkan mampu memperkuat keimanan serta membentuk karakter yang lebih baik.

Meski memiliki kapasitas ideal hanya untuk 156 orang, Rutan Kelas IIB Boyolali kini menampung hingga 322 warga binaan, terdiri dari 307 pria dan 15 wanita. Kondisi tersebut tak menyurutkan semangat petugas dalam memberikan pembinaan menyeluruh bagi seluruh penghuni.

Khusus bagi warga binaan perempuan, pembinaan dilakukan secara terarah melalui kegiatan keterampilan seperti merajut, tata boga, hingga pembuatan keripik. Pembimbing perempuan, Dewi, menjelaskan bahwa sebagian besar warga binaan wanita merupakan narapidana kasus narkoba dengan masa hukuman hingga tujuh tahun. Salah satunya diketahui berasal dari Sukoharjo.

Dewi menegaskan, pendekatan kemanusiaan menjadi kunci utama dalam setiap kegiatan pembinaan. “Kami ingin para warga binaan dapat kembali ke masyarakat dengan bekal keterampilan dan keyakinan diri untuk hidup lebih baik dan mandiri,” ujarnya.

Melalui berbagai program tersebut, Rutan Kelas IIB Boyolali berupaya tidak hanya menjadi tempat penahanan, tetapi juga pusat pembinaan yang membekali para warga binaan menuju kehidupan yang lebih produktif dan bermartabat.


Aj.

SPONSOR
Lebih baru Lebih lama