Sokoguru Revolusi Singkong Raksasa Takdir Ubah Peta Pangan Dunia

KEDIRI | Cyberpolri.id - Rabu (28/1/2026),Mbah Mukibat: Petani Desa yang Menantang Takdir Singkong dan Mengubah Peta Pangan Dunia,Desa Ngadiluwih, Kediri, Jawa Timur

Puluhan tahun lalu, seorang petani sepuh membuktikan satu hal yang sering diremehkan: ilmu besar bisa lahir dari ladang kecil. Namanya Mukibat. Orang-orang memanggilnya Mbah Mukibat. Ia bukan profesor, bukan sarjana pertanian, apalagi pejabat negara. Tapi dari tangannya, lahir varietas singkong yang kelak disebut-sebut sebagai “singkong raksasa”, bahkan menembus perhatian dunia.

Kisah ini bukan sekadar tentang umbi raksasa. Ini tentang akal sehat kaum tani, keberanian melawan kemiskinan struktural, dan sebuah inovasi yang lahir di tengah ancaman krisis pangan Indonesia awal 1960-an.

Dari Ancaman Kelaparan ke Gerakan 1001 Akal

Saat Indonesia berada dalam bayang-bayang krisis pangan, wabah tikus, dan apa yang disebut sebagai “tujuh setan desa”—kemiskinan, kebodohan, hingga ketimpangan tanah—Barisan Tani Indonesia (BTI) meluncurkan Gerakan 1001. Gerakan ini bukan sekadar slogan, tapi ajakan: kaum tani harus berpikir, meneliti, dan bereksperimen.

Ketua Umum BTI, Asmoe Tjiptodarsono (Bung Asmu), menegaskan bahwa petani bukan objek pembangunan, melainkan subjek revolusi. Sejalan dengan pemikiran Soekarno, kaum tani disebut sebagai sokoguru revolusi. Dan dari ruang-ruang kecil desa, puluhan peneliti turun langsung ke sawah—turba, istilahnya—belajar bersama petani.

Di sinilah nama Mukibat muncul.

Ilmu yang Lahir dari Laku

Mukibat lahir tahun 1903. Saat menemukan metode revolusionernya pada 1961, usianya sudah 59 tahun. Tapi usia tak menghalangi rasa ingin tahu. Ia memegang teguh falsafah Jawa: ilmu iku ketemune kanthi laku—ilmu ditemukan lewat praktik.

Mbah Mukibat melakukan sesuatu yang dianggap nekat: mengawinkan singkong konsumsi (Manihot esculenta) dengan singkong karet (Manihot glaziovii), tanaman yang selama ini dicap “telo genderuwo”—besar, pahit, beracun, dan dianggap tak berguna.

Lewat teknik okulasi (penyambungan batang), Mukibat menggabungkan kekuatan akar singkong karet dengan umbi singkong konsumsi. Hasilnya mencengangkan: satu pohon singkong bisa menghasilkan hingga 100 kilogram umbi. Bukan mitos, bukan cerita warung kopi—ini fakta lapangan.

Sejak saat itu, varietas tersebut dikenal sebagai Singkong Mukibat. Sebuah penemuan rakyat yang menampar anggapan bahwa inovasi hanya milik laboratorium modern.

Dari Kediri ke Dunia

Metode Mukibat menyebar cepat. Petani lain mulai bereksperimen: mengokulasi tanaman, mengawinkan bunga secara manual, bahkan menciptakan varietas baru seperti padi gogo—padi tangguh untuk lahan kering, berumur pendek, hasil besar, dan rasa lebih pulen.

Pada 1974, Universitas Brawijaya meneliti sistem Mukibat. Hasilnya tak main-main: produktivitas singkong bisa menembus 70 ton per hektar, bahkan lebih dengan perawatan intensif. Umur tanamnya panjang, tapi hasilnya sepadan.

Tak berhenti di Indonesia, lembaga riset internasional seperti IITA (Nigeria) dan CIAT (Kolombia) ikut menguji metode Mukibat. Sebuah teknik yang lahir dari desa di Kediri, menembus batas benua.

Inovasi vs Realitas Politik

Sayangnya, sejarah tak selalu berpihak pada penemu. Pasca Peristiwa 30 September 1965, BTI dibubarkan, gerakan tani dipatahkan, dan banyak pengetahuan rakyat ikut terkubur oleh stigma politik. Singkong Mukibat tetap hidup di ladang, tapi nama penemunya perlahan menghilang dari buku pelajaran.

Padahal, pesan BTI kala itu tetap relevan hingga kini: sehebat apa pun inovasi, tanpa keadilan agraria, petani tetap akan miskin.

Warisan yang Masih Bernapas

Hari ini, saat krisis pangan kembali menghantui dunia, kisah Mbah Mukibat terasa makin relevan. Ia bukan sekadar penemu singkong raksasa. Ia simbol bahwa kearifan lokal, riset rakyat, dan keberanian mencoba bisa menjadi jawaban atas persoalan besar.

Di tengah ladang sederhana Kediri, Mbah Mukibat telah membuktikan: revolusi pangan bisa dimulai dari satu tangan petani yang berani berpikir berbeda.


(Nang)

SPONSOR
Lebih baru Lebih lama