JAKARTA | Cyberpolri.id - Senin (16/2/2026),Dalam sejarah Kepolisian Republik Indonesia, jarang ada kalimat yang begitu menggetarkan nyali para perwira sekaligus membuat bandit kocar-kacir selain kalimat ini: "Tertibkan, atau Anda saya copot"
Itulah jargon legendaris dari Jenderal Polisi (Purn.) Sutanto. Sosok peraih Adhi Makayasa (lulusan terbaik) Akpol 1973 ini dikenal bukan karena retorikanya, melainkan karena tangannya yang dingin saat menyapu bersih praktik perjudian dan mafia yang selama puluhan tahun dianggap "tak tersentuh" di tanah air.
"Musuh Abadi" Bandar Judi: Dari Medan hingga Pelosok Negeri
Reputasi Jenderal Sutanto sebagai momok bagi dunia hitam dimulai saat ia menjabat sebagai Kapolda Sumatera Utara. Di Medan, wilayah yang kala itu menjadi "surga" bagi lapak judi, Sutanto melakukan aksi pembersihan tanpa kompromi. Ia tidak butuh waktu lama untuk membuktikan bahwa di bawah komandonya, hukum tidak bisa dibeli.
Keberhasilan itu dibawa hingga ia dilantik menjadi Kapolri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2005.
Hanya beberapa hari setelah menjabat, ia mencanangkan Program 100 Hari Pemberantasan Judi. Hasilnya? Seluruh Indonesia "tiarap". Lapak-lapak judi besar hingga pengecer kupon togel di gang sempit tutup seketika karena perintah tegas sang Jenderal: Berantas sampai ke akar-akarnya, termasuk jika ada oknum yang membekingi.
Perang Melawan Mafia Migas dan Premanisme
Ketegasan pria kelahiran Comal, 30 September 1950 ini tidak berhenti di meja judi. Sutanto mengarahkan moncong meriam hukumnya ke arah mafia bahan bakar minyak (BBM) dan mafia migas yang merugikan negara triliunan rupiah.
Ia sadar bahwa bisnis ilegal migas sering kali melibatkan jaringan yang rumit. Namun, dengan kedisiplinan seorang mantan Ajudan Presiden Soeharto, Sutanto memutus rantai tersebut satu per satu. Premanisme di pelabuhan dan terminal pun tak luput dari pembersihan. Baginya, keamanan publik adalah harga mati yang tidak bisa ditawar dengan upeti.
Menumbangkan Gembong Teroris Terbesar
Di bawah kepemimpinannya, Polri juga mencatatkan prestasi emas di mata dunia melalui operasi pemberantasan terorisme. Sutanto adalah sosok di balik suksesnya Polri mengepung dan melumpuhkan gembong teroris paling dicari di Asia Tenggara, Dr. Azahari, di Batu, Jawa Timur pada 2005.
Keberhasilan ini, ditambah dengan penuntasan kasus Bom Bali 2, membuat Polri di bawah era Sutanto mendapatkan kehormatan tinggi di panggung internasional sebagai salah satu satuan kepolisian terbaik dalam penanganan kontra-terorisme.
Warisan Integritas: Kecerdasan yang Berani
Banyak lulusan terbaik lahir dari akademi, namun tak semua memiliki keberanian seperti Sutanto. Ia mengajarkan bahwa kecerdasan tanpa keberanian untuk bertindak benar hanyalah angka di atas kertas. Dari posisinya yang bermula sebagai Kapolsek di Kebayoran, ia menapaki tangga karier dengan integritas yang tak goyah oleh godaan materi.
Hingga kini, nama Jenderal Sutanto tetap menjadi standar emas bagi kepemimpinan Polri. Ia membuktikan bahwa seorang polisi bisa sangat dicintai rakyat sekaligus sangat ditakuti oleh mereka yang bermain di jalur gelap.
"Hukum tidak tegak dengan sendirinya, ia butuh tangan yang bersih dan nyali yang besar.
(Nang)

