SURAKARTA | Cyberpolri.id - Sabtu (28/2/2026) Pembangunan kembali keraton Surakarta,Pembersihan reruntuhan kebakaran dimulai pada siang hari yang sama, 1 Februari 1985.Abu, arang, serta puing-puing dimasukkan ke dalam karung karena akan dilarung.Dikerjakan oleh abdi dalem bersama personil militer dan pegawai Dinas Pekerjaan Umum, seluruhnya ada 2.115 karung ukuran 1 kuintal.
Khusus area Prabasuyasa, pembersihan dilakukan langsung oleh para putri raja dan abdi dalem terpilih untuk menyelamatkan sisa-sisa pusaka, perhiasan, dan harta benda lain yang masih tercecer.
Pada 4 Februari, Pakubuwana XII melaporkan musibah ini kepada presiden Soeharto di Jakarta. Keesokannya presiden membentuk Panitia Swasta Pembangunan Kembali Keraton Surakarta, atau dikenal sebagai Panitia 13. Diketuai Surono Reksodimedjo, tim ini bertugas mempersiapkan sumber daya dan dana. Soeharto secara khusus juga menyumbangkan separuh gajinya selama 5 bulan.
Bertepatan 40 hari peristiwa kebakaran, pada 4 dan 6 April, karung-karung berisi sisa kebakaran dilarung di Pantai Parangkusumo. Upacara ini dilakukan karena reruntuhan keraton dianggap masih keramat.
Pelaksanaan
Dalam beberapa bulan saja Panitia 13 sudah menghimpun dana sumbangan sebanyak 1,4 miliar rupiah. Pada 21 Juni dimulailah prosesi adat untuk persiapan pembangunan kembali keraton dengan menanam kepala rusa di area Sasana Sewaka. Lalu pada 12 Juli giliran area Gedhong Pusaka di Prabasuyasa yang ditanami kepala kerbau bule dan naga simbolis.
Puncaknya, pada 17 Agustus 1985, digelar upacara sesaji rajasuya di bekas Dalem Ageng Prabasuyasa. Kembali, kepala hewan dan aneka sesaji yang dikumpulkan dari tempat-tempat bersejarah kerajaan Mataram Islam ditanam untuk menandai peletakan batu pertama pembangunan kembali keraton setelah kebakaran.
Rangkaian prosesi ini tidak dilakukan serta merta karena disesuaikan perhitungan adat. Dan Panitia 13 secara seksama mengikuti aturan semacam itu. Perihal pekerja pembangunan misalnya, mereka harus memakai ikat kepala dan kain samir. Atau untuk kebutuhan kayu, secara khusus ditebang dari Alas Donoloyo seperti saat Pakubuwana II pertama kali membangun keraton Surakarta.
Meski begitu, pembangunan juga tidak mulus-mulus saja. Pada 1986, proyek terhenti 8 bulan karena perbedaan pendapat terkait pemakaian kembali tiang-tiang besi yang selamat dari kebakaran.Lalu pada 10 Juli 1987 sempat terjadi kebakaran lagi di tengah pembangunan Bangsal Maligi.
lSetelah menghabiskan biaya sebesar 3,7 miliar rupiah, bangunan-bangunan baru yang meliputi kompleks Sasana Sewaka, Dalem Ageng Prabasuyasa, dan Dalem Pakubuwanan akhirnya diresmikan pada 17 Desember 1987. Selain bangunan baru, sejumlah bangunan yang sudah lapuk juga ikut direhabilitasi yakni Srimanganti Lor dan Kidul, Sasana Pustaka, Wiwara Kenya, Sasana Wilapa, dan Selasar Pakubuwanan. Adapun restorasi Sasana Handrawina ditangguhkan sampai tersedia dana.
Untuk menanggulangi kejadian serupa, pembangunan ini juga menyertakan sistem penggera kebakaran dan 7 pompa hidran.
Sasana Handrawina
Setelah sempat terbengkalai, pembangunan kembali Sasana Handrawina dilakukan pada 1997 dengan dana sumbangan yang dikumpulkan dari 15 pengusaha dan perusahaan nasional, dikoordinasi oleh Menparpostel Joop Ave.
Seperti sebelumnya, pembangunan didahului dengan aneka upacara dan persiapan. Kayu-kayu tiang utama sebagian ditebang dari Alas Donoloyo, sisanya didapat dari hutan Perhutani di Randublatung, Cepu, Blora, Mantingan, Purwodadi, dan Kebonharjo.
Meski bangunan baru ini dibuat semirip mungkin dengan aslinya, sejumlah penyesuaian juga dilakukan seperti penggantian lantai dari batu bata menjadi marmer hingga penambahan dinding kaca untuk keperluan pendingin udara.
Bangunan anyar Sasana Handrawina diresmikan pada 19 Desember 1997, yang juga mencakup pemugaran Sasana Hadi, Bangsal Smarakata, Kori Kamandungan, Srimanganti, Sasana Wilapa.
(Nang)

