SEMARANG | Cyberpolri.id - Jum’at 6 Februari 2026, Kerawanan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Jawa Tengah, khususnya Kota Semarang, masih tergolong tinggi dan menjadi tantangan serius yang membutuhkan kerja bersama lintas sektor. Kompleksitas pola peredaran yang kini memanfaatkan media sosial serta menyasar generasi muda menuntut langkah kolaboratif yang lebih kuat, terstruktur, dan berkelanjutan.
Sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, khususnya dalam penguatan sumber daya manusia dan ketahanan nasional, upaya pencegahan dan penanganan narkoba tidak dapat hanya dibebankan pada aparat penegak hukum semata. Pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam membangun sistem perlindungan masyarakat, pendidikan karakter, serta deteksi dini di lingkungan sosial dan birokrasi.
Atas dasar tersebut, Kepala BNNP Jawa Tengah melakukan audiensi dan silaturahmi dengan Wali Kota Semarang (06/02) bertempat di Kantor Walikota Semarang, sebagai langkah awal memperkuat sinergi antara BNNP Jawa Tengah dan Pemerintah Kota Semarang. Kolaborasi ini diarahkan untuk menjaga generasi muda dari ancaman narkoba, memperkuat nilai-nilai Pancasila, serta mendukung agenda nasional dalam mewujudkan Indonesia yang sehat, produktif, dan berdaya saing.
Kepala BNNP Jawa Tengah, Toton Rasyid, S.H., M.H., dalam pertemuan tersebut menyampaikan bahwa audiensi ini merupakan bentuk kulo nuwun dan perkenalan sebagai pejabat baru di Jawa Tengah, sekaligus pemaparan kondisi faktual penyalahgunaan narkoba di Jawa Tengah, khususnya Kota Semarang yang masuk dalam wilayah rawan dan menjadi zonasi penanganan BNNP Provinsi.
“Kami menyampaikan kulo nuwun dan sowan kepada Ibu Wali Kota sebagai pejabat baru di Jawa Tengah. Kota Semarang memiliki daya ungkap narkoba yang tinggi, sehingga membutuhkan kerja keras bersama. Saat ini dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, baru terdapat 9 BNN kabupaten/kota, sehingga peran BNNP masih sangat dominan, termasuk di Kota Semarang,” ujar Toton Rasyid.
Ia menjelaskan bahwa pola peredaran narkoba saat ini semakin kompleks, terutama melalui media sosial, di mana mayoritas pembeli berasal dari kalangan anak muda. Jalur peredaran narkotika, khususnya sabu, banyak masuk dari Kalimantan dan Malaysia, dengan Pelabuhan Tanjung Mas Semarang kerap menjadi lokasi transit sebelum diedarkan ke wilayah lain di Pulau Jawa.
Toton Rasyid juga menyampaikan harapan adanya dukungan Pemerintah Kota Semarang terkait perpanjangan izin operasional klinik rehabilitasi BNN, serta penguatan sinergi lintas sektor. Ia menegaskan bahwa meskipun dirinya berasal dari latar belakang jaksa, substansi tugas penegakan hukum dan pencegahan narkoba tetap menjadi prioritas utama.
“Mayoritas penghuni rumah tahanan di Indonesia adalah kasus narkoba. Karena itu, pencegahan jauh lebih penting. Kami berharap kolaborasi ini dapat menjaga generasi muda Kota Semarang agar terhindar dari narkoba,” tutupnya.
Sedangkan Wali Kota Semarang, Dr. Agustina Wilujeng Pramestuti, S.S., M.M., menyambut baik audiensi dan silaturahmi tersebut serta menyatakan kesiapan Pemerintah Kota Semarang untuk memperkuat kerja sama dengan BNNP Jawa Tengah.
“Kami menyambut baik kehadiran Kepala BNNP Jawa Tengah dan mengapresiasi kerja sama yang selama ini telah terjalin. Kasus narkoba di Kota Semarang menunjukkan tren peningkatan sehingga dibutuhkan upaya khusus dan kolaborasi lintas perangkat daerah,” ungkap Wali Kota.
Ia menegaskan bahwa Pemkot Semarang siap melibatkan Dinas Pendidikan, Kesbangpol, Dishub, Satpol PP, serta perangkat daerah lainnya dalam upaya pencegahan melalui sosialisasi bahaya narkoba, khususnya di tingkat SMP dengan pendekatan yang relevan bagi generasi muda.
“Pencegahan harus dimulai sejak dini, seiring dengan penanaman nilai-nilai Pancasila. Ketahanan anak dan ketahanan negara sama-sama penting. ASN juga harus menjadi agen pencegahan di lingkungan tempat tinggal dan sosialnya masing-masing,” jelasnya.
Wali Kota Semarang juga menyatakan kesiapan Pemkot untuk mendukung deteksi dini bagi ASN serta memfasilitasi koordinasi lanjutan, baik melalui rapat koordinasi maupun kerja sama formal, guna memperkuat peran pemerintah daerah sebagai entitas pemulihan dan perlindungan masyarakat
“Kami siap berada di ruang yang sama, bekerja bersama BNN untuk menjaga generasi muda dan memperkuat nilai-nilai positif di masyarakat,” pungkasnya.
Audiensi ini diharapkan menjadi langkah awal yang konkret dalam memperkuat sinergi antara BNNP Jawa Tengah dan Pemerintah Kota Semarang dalam menghadapi tantangan penyalahgunaan dan peredaran narkoba yang semakin dinamis. Melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan perangkat daerah, dunia pendidikan, aparat penegak hukum, serta partisipasi aktif masyarakat, upaya pencegahan dan penanganan narkoba dapat dilakukan secara lebih komprehensif, mulai dari deteksi dini, edukasi, hingga rehabilitasi. Kota Semarang sebagai wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi diharapkan mampu menjadi contoh penguatan peran pemerintah daerah dalam mendukung kebijakan nasional pemberantasan narkoba.
Ke depan, sinergi ini tidak hanya difokuskan pada penindakan, tetapi juga pada penguatan karakter generasi muda melalui internalisasi nilai-nilai Pancasila, peningkatan kesadaran bahaya narkoba, serta peran aparatur sipil negara sebagai agen pencegahan di lingkungan kerja dan sosialnya. Dengan semangat kebersamaan dan kesamaan visi antara BNNP Jawa Tengah dan Pemerintah Kota Semarang, upaya melindungi generasi penerus bangsa dari ancaman narkoba diharapkan dapat berjalan berkelanjutan, sejalan dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia dalam membangun sumber daya manusia yang sehat, tangguh, dan berdaya saing.
knsa

