JOMBANG | Cyberpolri.id – Puluhan santri di Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah, Dusun Betek Selatan, Desa Betek, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, diduga mengalami keracunan makanan usai menyantap hidangan buka puasa pada Kamis (5/3/2026).
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 18.00 WIB saat para santri berbuka puasa dengan menu nasi, rawon, dan telur asin. Tak lama setelah makan, sejumlah santri mulai mengeluhkan mual, muntah, hingga tubuh terasa lemas. Kondisi itu kemudian dialami oleh semakin banyak santri, bahkan beberapa di antaranya dilaporkan sempat pingsan.
Salah satu santri, Azza Khoirun Nisa (17), mengungkapkan bahwa mayoritas santri putri mengalami keluhan serupa setelah menyantap hidangan tersebut.
“Banyak yang muntah dan lemas. Ada juga yang sampai pingsan.
Dari total 34 santri putri, hanya sekitar tujuh orang yang tidak mengalami gejala,” ujarnya kepada wartawan.
Azza menjelaskan, menu nasi dan rawon dimasak oleh pihak pesantren, sementara telur asin berasal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima pesantren pada pagi hari. Dalam paket tersebut juga terdapat roti, susu, kacang-kacangan, pisang, dan pir.
Pengasuh Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah, Muhammad Adam, mengatakan bahwa total santri di pesantren tersebut berjumlah 84 orang, terdiri dari 36 santri putri dan 48 santri putra dari jenjang pendidikan SMP hingga SMA.
Menurutnya, paket MBG diterima sekitar pukul 09.00 WIB dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Betek.
Saat waktu berbuka tiba, pihak pesantren menyiapkan nasi dan rawon, sementara lauk telur asin diambil dari paket bantuan tersebut.
“Setelah magrib anak-anak mulai berbuka. Ada yang baru makan sedikit sudah merasa mual, ada juga yang selesai makan kemudian muntah.
Awalnya saya kira karena telat makan atau sakit maag, tetapi ternyata banyak yang mengalami gejala serupa, bahkan ada yang lemas dan pingsan,” jelasnya.
Melihat kondisi para santri yang terus memburuk, pihak pesantren segera berkoordinasi dengan pihak SPPG Betek. Tak lama kemudian, ambulans didatangkan untuk mengevakuasi para santri yang mengalami gejala keracunan ke RS PKU Muhammadiyah Mojoagung guna mendapatkan penanganan medis.
Berdasarkan data sementara, sebanyak 40 santri dilaporkan mengalami gejala keracunan, terdiri dari 30 santri putri dan 10 santri putra.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada, menyebutkan bahwa 31 santri tercatat menjalani perawatan di RS PKU Muhammadiyah Jombang. Sebagian di antaranya sudah diperbolehkan pulang setelah kondisi membaik.
“Sebanyak 10 santri sudah diperbolehkan pulang, sementara 21 lainnya masih menjalani perawatan. Kondisi mereka sadar dan terus dipantau oleh tim medis,” ujarnya.
Untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut, Dinas Kesehatan Jombang masih melakukan penyelidikan. Sejumlah sampel makanan dan muntahan korban telah diamankan untuk diuji di laboratorium.
“Sampel yang diambil meliputi rawon, telur asin, serta muntahan korban. Seluruhnya akan diperiksa di laboratorium di Surabaya guna memastikan sumber keracunan,” terang dr. Hexawan.
Hingga kini, pihak berwenang masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab insiden yang membuat puluhan santri mengalami gangguan kesehatan tersebut. Sementara itu, pihak pesantren bersama instansi terkait terus memantau kondisi para santri yang terdampak.
Ririn


