SUMATERA BARAT | Cyberpolri.id - Di tengah tantangan mahalnya pupuk, tingginya ongkos tenaga kerja, dan biaya produksi yang semakin menekan, hadir sebuah gagasan segar dari Sumatera Barat.
Gagasan itu datang dari seorang pakar pertanian, Ir. Djoni, yang menamai temuannya Sawah Pokok Murah (SPM). Metode ini mampu menekan biaya produksi hingga jauh lebih murah, namun hasil panen justru bisa meningkat hingga dua kali lipat.
Senin (25/8/2025)
Sebuah klaim yang tentu menyalakan harapan banyak petani, apalagi di tengah kondisi di mana sering kali biaya tanam lebih besar daripada hasil yang dibawa pulang ke rumah.
SPM berangkat dari kesadaran sederhana, petani tidak harus terikat pada pola lama yang mahal dan boros.
Tanah tidak perlu diolah berulang-ulang, jerami tidak lagi dibakar melainkan dimanfaatkan kembali untuk menyehatkan lahan, dan sawah tidak wajib selalu tergenang air. Prinsip ini membuat petani bisa menghemat biaya, menjaga kesuburan tanah, sekaligus memelihara lingkungan.
Djoni kerap menyampaikan kalimat motivatif kepada para petani: “Kalau bisa murah, mengapa harus mahal? Kalau bisa sederhana, mengapa dipersulit?” Ungkapan sederhana ini menyentuh, karena di balik kata-kata itu tersimpan ajakan agar petani berani berubah, meninggalkan kebiasaan lama yang memberatkan, dan mencoba jalan baru yang lebih bersahabat dengan kondisi mereka.
Pemerintah daerah pun mulai melirik inovasi ini. Menurut Agamgoid, konsep Sawah Pokok Murah dianggap selaras dengan upaya swasembada beras. Tidak hanya itu, pola ini juga sejalan dengan prinsip pertanian berkelanjutan yang kini banyak digalakkan. Dengan kata lain, SPM bukan sekadar solusi jangka pendek, tetapi sebuah langkah yang bisa membawa pertanian ke arah lebih baik.
Hasil uji coba awal di lapangan menumbuhkan rasa optimis. Sejumlah petani yang mencoba metode ini mendapati biaya produksi menurun, sementara panen tidak berkurang bahkan cenderung meningkat. Bukti kecil ini membuat semakin banyak kelompok tani ingin mengetahui lebih jauh, mencoba secara langsung, dan merasakan manfaatnya.
Namun, Harian Haluan menjelaskan inovasi ini tetap membutuhkan pembuktian melalui penelitian dan uji demplot yang lebih luas. Klaim keberhasilan perlu diperkuat agar bisa dijadikan acuan resmi bagi program pertanian nasional. Meski begitu, hal ini justru menjadi ruang terbuka bagi kolaborasi petani, penyuluh, dan pemerintah untuk bergandengan tangan mewujudkannya.
Lebih dari sekadar metode, Sawah Pokok Murah membawa pesan motivasi bagi kita semua.
Bahwa perubahan besar bisa lahir dari pemikiran sederhana, dari jerih payah orang yang berani melawan arus, dan dari keberanian petani untuk tidak menyerah pada keadaan. Dari sawah kecil di Sumatera Barat, muncul harapan baru, pertanian yang lebih murah, lebih ramah, dan lebih mensejahterakan.
Mari kita saling dukung inovasi dari rakyat demi kesejahteraan bersama.
(Nang)

