YOGYAKARTA|Cyberpolri.id - Waktu berjalan, dunia yang gelap bergeser. Di dalam siklus windu, ada satu tahun yang disebut Dal: bukan tahun yang menakutkan, tetapi tahun yang menguji hati—membangunkan pikiran agar sadar, waspada, dan rendah hati. Ketika Dal datang, kejadian sering kacau, tetapi dari kekacauan itulah kebijaksanaan ditempa."
1) Pelajaran Dasar Tahun Dal
Posisi dalam Windu: Alip – Ehe – Jimawal – Je – Dal – Be – Wawu – Jimakir (Dal adalah tahun kelima).
Arti Simbolis: Dal (dari huruf Dāl) artinya petunjuk/dalil—tahun yang menandai perubahan: kursi pemerintahan bisa bergeser, rakyat mendapat ujian, alam memberi isyarat.
Senin (26/8/2025)
Sifat tahun: Sering disebut “taun wuntu” (tahun panjang ±355 hari), merupakan masa pembersihan kosmis: yang rapuh menjadi “miring” dibetulkan, yang merusak diusir keluar, yang rendah hati diangkat.
2) Waktu Pasti (Termasuk Bulan Ini)
Awal Tahun Dal: Dimulai dari 1 Sura AJ 1959 (malam 1 Sura bertepatan dengan 27/28 Juni 2025) hingga akhir Dal: sebelum 1 Sura AJ 1960 (sekitar 30 Juni 2026).
Arti Praktis: Bulan Agustus 2025 ini memang sudah termasuk dalam Tahun Dal, dan Dal akan berjalan terus hingga akhir Juni 2026 (menurut penanggalan Jawa).
Catatan penting: Dalam aturan Jawa, hari dimulai setelah matahari terbenam (maghrib). Jadi “malam 1 Sura” sudah termasuk dalam hari Sura berikutnya.
3) Pertanda dan Kejadian di Tahun Dal
Para orang tua berkata, dalam Dal sering terlihat tiga gelombang: (a) gejolak pemerintahan, (b) beratnya rakyat, (c) isyarat alam.
1. Gejolak pemerintahan – “ganti pemimpin/ganti kursi”: perubahan struktur, kebijakan terbalik, atau pembersihan lembaga.
2. Beratnya rakyat – masa sulit, harga naik, pekerjaan menegangkan; tetapi ini sering menjadi awal untuk melatih ketahanan: rakyat lebih rukun, hemat, gotong royong.
3. Isyarat alam – cuaca ekstrem, tanah kering lalu hujan deras, bencana singkat; tanda alam membersihkan dirinya.
4. Gelombang batin – banyak hati gelisah: yang sombong dijatuhkan, yang sabar dibuktikan, yang tebal dosanya dihadang melalui ujian.
4) Pantangan Umum di Tahun Dal (Tata Cara Perilaku)
Pantangan ini bukan “larangan” yang menakutkan, tetapi pengingat agar selamat dari pamrih dan sial.
Jangan Adigang-Adigung-Adiguna: Tidak pantas bersikap pamer kekuatan/kekuasaan.
Jangan boros (Mubadzir): Pesta besar tanpa guna lebih baik dihindari; salurkan dana untuk menolong/sedekah.
Jangan mudah merencanakan hal besar yang belum dihitung matang terutama saat bulan Sura: membongkar rumah, pindahan massal, atau rencana proyek “hebat” lebih baik ditunda.
Jangan sembrono terhadap tanda alam: jika ada isyarat, diamati dengan saksama jangan diabaikan.
Perbanyak tirakat: puasa (mutih/dawud), semedi, baca doa, menyelaraskan hubungan dengan "sedulur kiblat papat kalimo pancer" (empat saudara spiritual dan diri sendiri).
5) Tata Cara Pernikahan di Tahun Dal
Dalam tradisi, pernikahan dilihat berdasarkan weton (kombinasi hari + pasaran) dan bulan.
1. Bulan yang Biasa Dipilih (Bulan Jawa)
Yang dihindari: Sura (bulan tirakat; bukan waktu untuk hura-hura).
Sering dipilih: Mulud (Rabiul Awal), Ruwah (Sya'ban), dan Besar (Dzulhijah)setiap keluarga bisa punya aturan berbeda, tetapi ketiga ini sering dirasa “tenang”.
2. Hari–Pasaran (Contoh Kebiasaan yang Baik)
Banyak orang tua memilih Rabu/Kamis dengan Legi/Wage karena dirasa lembut dan damai (ini bukan dogma hanya kebiasaan umum).
Ingat: menghormati saran keluarga dan nasihat sesepuh lebih diutamakan daripada “memaksakan” hitungan sendiri.
3. Perhitungan Neptu (Versi Umum)
Neptu hari: Minggu=5, Senin=4, Selasa=3, Rabu=7, Kamis=8, Jumat=6, Sabtu=9.
Neptu pasaran: Legi=5, Pahing=9, Pon=7, Wage=4, Kliwon=8.
Caranya: Jumlahkan neptu weton calon pengantin berdua, lalu lihat hasilnya dibagi 8 (modulo 8):
1 = Pegat (rawan berpisah)
2 = Ratu (derajat tinggi)
3 = Jodho (cocok)
4 = Topo (awal sulit, akhirnya mulia)
5 = Tinari (rejeki terang)
6 = Padu (mudah cekcok)
7 = Sujanan (rawan goda selingkuh)
0/8 = Pesthi (tentram)
Tahun Dal menambah bobot pada kategori “sulit” (Pegat/Padu/Sujanan). Bukan dilarang, tetapi diwajibkan persiapan batin yang lebih kuat sebelum akad.
5.4. Jika Hasil Hitungan “Sulit”, Apa yang Harus Dilakukan?
Lakukan ruwat kecil dengan selamatan:
Bubur merah-putih, kembang telon (tiga macam bunga), air bening, tumpeng kecil, doa pangruwatan (mengubah rasa sedih menjadi syukur).
Bersedekah kepada yatim/dhuafa sebagai “tumbal pamrih” mengalihkan energi negatif menjadi manfaat.
Pilih hari setelah Sura (atau bulan yang tenang), dan undang sesepuh/kyai/penghulu untuk memberikan restu.
Janji perilaku rumah tangga: setelah menikah rajin salat/selamatan hari besar, Selasa-Jumat baca wirid/merenung; melakukan kegiatan masyarakat (bersih-bersih kampung, menanam, merawat tanaman): rumah tangga tentram, malapetaka sirna.
Pengingat: hitungan adalah pengasah rasa, bukan nasib mutlak. Rasa cinta, tenggang rasa, saling menghargai, dan gotong royonglah yang membuat keluarga “berputar dan mantap”.
6) Laku Pangruwatan Dal (Mengurangi Kekacauan, Menambah Kedamaian)
1. Slametan Dal (kecil, sederhana, tidak boros): bubur merah-putih, tumpeng kecil, kembang telon, air bening doa pangruwatan.
2. Meminta maaf pada saudara: melepaskan ikatan buruk minta maaf pada orang tua, tetangga, rekan kerja ini meringankan beban Dal.
3. Melatih welas asih: sedekah, menanam pohon, membersihkan sumber air“menerima takdir” tetapi tetap bekerja keras.
4. Puasa & semedi: minimal sekali sebulan; menyambut Dal baik melakukan mutih (1–3 hari) atau mengurangi gadget (puasa pekerjaan digital) agar pikiran jernih.
5. Tirakat Sura (jika bertemu): lebih baik diisi dengan mengingat asal-usul daripada pesta: baca sejarah keluarga, menuntut ilmu, baca kitab/nasihat.
7) Ringkasan Praktis (Supaya Mudah Diingat)
Agustus 2025 s/d Juni 2026: masih Tahun Dal.
Dal = perubahan: pemerintahan bergeser, rakyat diuji, alam memberi isyarat.
Pantangan Dal: jangan pamer, jangan boros, jangan sembrono; perbanyak tirakat & sedekah.
Nikah di Dal: tidak dilarang, tetapi atur: hindari Sura, pertimbangkan bulan tenang (Mulud/Ruwah/Besar), periksa neptu (Pegat/Padu/Sujanan harus diruwat kecil + sedekah + restu sesepuh).
Kunci Dal: rendah hati, sadar, menerima, dan menolong itu yang mengubah kekacauan menjadi kesejahteraan.
8) Penutup (Tembang Rasa)
“Dal adalah pertanda; yang sombong dijatuhkan, yang sabar ditinggikan. Jangan gemetar oleh kabar, tetapi gemetarlah hatimu karena ingat pada Tuhan. Jika hati bersih dan tindakan tulus, Dal hanyalah jalan bukan tembok.
Semoga perubahan menjadikan kita lebih bijaksana, lebih welas asih, dan lebih bersatu.
(Nang)


