JAKARTA | Cyberpolri.id - Rabu (7/1/2025),Ketika seseorang diberi jabatan, sejatinya ia sedang diberi amanah,bukan hadiah.
Jabatan adalah titipan untuk mengurus kepentingan bersama, bukan jalan pintas untuk memperkaya diri.
Jika setelah memegang kekuasaan hidupnya berubah menjadi jauh lebih mewah tanpa alasan yang jelas, maka ada kejanggalan yang patut dipertanyakan.
Di situlah kejujuran mulai diuji, bukan lewat kata-kata, tetapi lewat gaya hidup.
Harta yang bertambah dari jabatan sering kali dibungkus dengan pembenaran: bonus, fasilitas, atau peluang. Padahal garis antara hak dan curang sangat tipis. Ketika kekuasaan digunakan untuk mengambil yang bukan miliknya, maka jabatan itu kehilangan maknanya.
Ia tidak lagi menjadi pelayan, tetapi berubah menjadi pengambil. Dalam kondisi seperti ini, kerusakan tidak hanya terjadi pada individu, tetapi juga pada kepercayaan publik.
Pesan ini mengingatkan bahwa ukuran integritas bukan seberapa tinggi posisi seseorang, melainkan seberapa bersih ia keluar dari posisi itu.
Kekuasaan akan berakhir, nama akan tercatat, dan jejak akan ditinggalkan. Ada orang yang dikenang karena pengabdiannya, ada pula yang diingat karena pengkhianatannya
Pada akhirnya, jabatan hanya sementara, tetapi kejujuran menentukan nilai seseorang selamanya.
(Nang)

