SURABAYA | Cyberpolri.id - Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu kekuatan moral dan kebangsaan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), khususnya di era digital yang kian rawan disusupi paham-paham menyimpang. PNIB secara tegas menyerukan kepada seluruh elemen bangsa untuk bersatu membersihkan ruang digital Indonesia dari konten intoleransi, radikalisme, khilafah, dan terorisme yang semakin masif dan terstruktur.
Ketua Umum PNIB, AR Waluyo Wasis Nugroho yang akrab disapa Gus Wal, menyampaikan bahwa ruang digital saat ini telah menjadi medan baru pertempuran ideologi. Jika tidak diwaspadai secara serius, generasi muda Indonesia berpotensi menjadi korban infiltrasi paham yang bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, dan nilai-nilai kebhinekaan bangsa.
“Ini bukan lagi ancaman laten, tetapi ancaman nyata dan terorganisir. Konten intoleransi, radikalisme, khilafah, dan terorisme menyasar anak-anak muda melalui media sosial, platform digital, hingga ruang diskusi daring yang tampak seolah edukatif, padahal sarat doktrin,” tegas Gus Wal dalam keterangannya, Senin (19/01/2026).
PNIB menyoroti data resmi dari Densus 88 AT Polri dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI) yang mencatat sepanjang tahun 2025 terdapat 21.199 konten bermuatan Intoleransi, Radikalisme, Khilafah, dan Terorisme (IRKT) beredar luas di ruang digital Indonesia. Angka tersebut menjadi bukti bahwa dunia maya masih menjadi ladang subur bagi penyebaran ideologi kekerasan yang mengancam persatuan bangsa.
Menurut PNIB, kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Negara, masyarakat sipil, media, tokoh agama, tokoh adat, dan komunitas digital harus membangun sinergi kuat untuk membentengi ruang digital dengan narasi kebangsaan, toleransi, dan cinta Tanah Air.
“PNIB berdiri tegak bersama NKRI. Kami tidak akan memberi ruang sedikit pun bagi ideologi yang ingin merongrong Pancasila dan memecah belah bangsa. Ruang digital harus menjadi rumah bersama yang sehat, cerdas, dan beradab, bukan sarang propaganda kebencian,” ujar Gus Wal dengan nada tegas.
Sebagai organisasi yang konsisten mengawal nilai-nilai nasionalisme dan kearifan Nusantara, PNIB mendorong penguatan literasi digital berbasis ideologi Pancasila. PNIB juga mengajak generasi muda untuk lebih kritis dalam menyaring informasi, tidak mudah terprovokasi, serta berani melaporkan konten-konten berbahaya yang mengarah pada radikalisme dan terorisme.
Lebih lanjut, PNIB menegaskan kesiapan organisasinya untuk berkolaborasi aktif dengan aparat penegak hukum, lembaga negara, serta komunitas digital dalam melakukan edukasi, sosialisasi, dan kontra-narasi terhadap paham-paham ekstrem. PNIB meyakini bahwa perang melawan radikalisme di ruang digital tidak cukup hanya dengan penindakan hukum, tetapi juga harus dibarengi dengan pendekatan budaya, kebangsaan, dan kemanusiaan.
“Indonesia adalah bangsa besar dengan sejarah panjang persatuan. PNIB akan terus berada di garis depan menjaga marwah bangsa, baik di dunia nyata maupun di ruang digital. NKRI harga mati, Pancasila final,” pungkas Gus Wal.
Dengan sikap tegas dan konsisten tersebut, PNIB kembali meneguhkan perannya sebagai benteng ideologi bangsa, sekaligus motor penggerak kesadaran kolektif untuk menjadikan ruang digital Indonesia bersih, aman, dan bermartabat bagi seluruh
Red


