MADIUN | Cyberpolri.id - Rabu (18/3/2026),Pesantren Banjarsari yang terletak di Desa Banjarsari Kulon Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun Provinsi Jawa timur.Dalam lintasan sejarah tercatat sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di wilayah Madiun. Berdirinya pesantren ini diperkirakan pada tahun 1768 oleh Kyai Muhammad bin Umar, seorang tokoh yang memiliki hubungan kekerabatan erat dengan pusat keilmuan Islam di Pesantren Tegalsari. Ia merupakan menantu dari Kyai Ageng Muhammad Besari, sekaligus masih berada dalam garis keturunan ke-6 dari Kyai Ageng Mirah, yang dikenal sebagai penasehat spiritual Batara Katong dalam proses Islamisasi tanah Ponorogo.
Dalam konteks politik dan sosial pada masa itu, Desa Banjarsari memiliki status sebagai tanah perdikan, yakni wilayah yang memperoleh hak istimewa dari penguasa. Status ini diberikan oleh Hamengku buwono I kepada Kyai Muhammad bin Umar sebagai bentuk penghargaan atas jasanya dalam meredam pemberontakan yang dipimpin oleh Pangeran Singosari. Seiring waktu, Desa Perdikan Banjarsari berkembang menjadi pusat keagamaan yang berpengaruh, dengan pesantrennya dikenal luas hingga berbagai penjuru Jawa, bahkan menarik santri dari wilayah Priangan dan luar Jawa.
Sebagai lembaga pendidikan, Pesantren Banjarsari memainkan peran penting dalam dinamika keilmuan Islam di kawasan mancanegara wetan. Perkembangannya sering disejajarkan dengan Pesantren Tegalsari sebagai pusat kaderisasi ulama. Peran ini diperkuat oleh keberadaan manuskrip-manuskrip klasik yang hingga kini masih tersimpan di kawasan masjid Banjarsari, menjadi bukti konkret aktivitas intelektual yang berkembang di lingkungan pesantren tersebut.
Penelusuran terhadap manuskrip-manuskrip itu menunjukkan keragaman disiplin ilmu yang diajarkan, meliputi aqidah, fiqih, tata bahasa Arab, ulum al-Qur’an, hingga tasawuf. Dalam bidang aqidah, ditemukan karya-karya seperti Syarah Ummul Barahin dan Ma’rifatul Islam. Sementara dalam bidang fiqih terdapat kitab-kitab penting seperti Fathul Qorib, Sittin Mas’alah, serta Minhaj Tullab karya Zakariya al-Ansari. Keistimewaan manuskrip Minhaj Tullab terletak pada kolofonnya yang masih mencantumkan nama pemilik, yaitu Kyai Muhammad Besari bin Kyai Muhammad Banjarsari, yang diyakini nama terakhir merujuk pada Kanjeng Kyai Maulani, putra pendiri pesantren. Dalam kolofonnya tertulis :
" ingkang aduwe kitab Minhaj Tullab Iki Tuan Haji Muhammad Besari bin Tuan Haji Muhammad Ing Banjarsari "
Dalam bidang hadis dan aqidah, terdapat pula manuskrip Syu’abul Iman karya Imam al-Baihaqi. Adapun dalam disiplin tasawuf ditemukan risalah yang membahas tingkatan martabat batin seorang salik, yang secara konseptual merujuk pada pemikiran tokoh-tokoh sufi besar seperti Ibnu Arabi. Redaksi yang merujuk ke Ibnu Arabiy sebagai berikut :
وتسمى هذه المرتبة تعبنا ثانيا وتجليا ثانيا عينيا ... كما قال الشيخ محي الدين رضي الله عنه
Sementara itu, dalam bidang tata bahasa Arab, ditemukan kitab-kitab dasar seperti Awamil Miah dan Jurumiyah, dimana kedua kitab tersebut menjadi bagian dari materi ajar klasik di Tegalsari.
Menariknya, khazanah manuskrip Pesantren Banjarsari tidak hanya mencerminkan keilmuan Islam, tetapi juga memuat risalah genealogis yang menelusuri nasab dari Nabi Adam hingga tokoh lokal seperti Sultan Hasanuddin. Dalam manuskrip Sultan Hasanudin Banten disebut dengan nama " Pangeran Saba Kingking Ing Banten ". Hal ini menunjukkan adanya perhatian terhadap kesinambungan tradisi nasab dan identitas keislaman dalam konteks lokal.
Berdasarkan keseluruhan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam perjalanan sejarahnya, Pesantren Banjarsari tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan keagamaan tingkat lokal, tetapi juga sebagai lembaga kaderisasi intelektual Islam tingkat tinggi. Hal ini ditunjukkan oleh keberadaan kitab-kitab dengan tingkat kajian lanjut, seperti Jawahir al-Qur’an karya Imam al-Ghazali serta Minhaj Tullab.
Meski demikian, gambaran mengenai khazanah keilmuan Pesantren Banjarsari tersebut belum dapat dikatakan utuh.
Temuan manuskrip yang ada masih terbatas pada satu lokasi, sehingga sangat dimungkinkan bahwa sebaran naskah-naskah lainnya masih tersebar di berbagai tempat, sebagaimana yang juga terjadi pada jaringan manuskrip di lingkungan Tegalsari. Hal ini membuka peluang penelitian lanjutan guna merekonstruksi secara lebih komprehensif peran historis Pesantren Banjarsari dalam jaringan intelektual Islam di Jawa.
( Nang)

