PONOROGO|Cyberpolri.id – Sabtu (2/5/2026) SMKN 1 Jenangan (STMJ) kembali mengukuhkan posisinya sebagai sekolah rujukan pencetak sumber daya manusia (SDM) unggul.
Dalam prosesi pelepasan 746 siswa kelas XII di Hall Nanggala, Kamis (30/4/2026), terungkap fakta membanggakan.
Yakni, sebagian besar siswa telah diterima bekerja di berbagai perusahaan besar nasional dan internasional bahkan sebelum ijazah resmi mereka terima.
"Ini alasan pelepasan kami gelar lebih awal. Banyak anak-anak yang harus segera berangkat bekerja di perusahaan besar nasional bahkan internasional. Mereka tak perlu lagi menunggu ijazah untuk membuktikan skill," tegas Farida di hadapan wali murid dan tamu undangan.
Capaian ini mempertegas kualitas kurikulum SMKN 1 Jenangan yang sangat relevan dengan kebutuhan industri masa kini.
Program Link and Match yang dijalankan sekolah terbukti efektif dalam memangkas masa tunggu lulusan untuk masuk ke dunia kerja.
Tradisi Juara dan Go International
Kepala SMKN 1 Jenangan, Farida Hanim Handayani, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa prestasi adalah napas dari sekolah ini.
Dengan moto "Tiada Hari Tanpa Prestasi", STMJ tidak hanya mendidik siswa di dalam kelas, tapi juga membentuk mental juara di berbagai ajang kompetisi.
"Kepercayaan masyarakat adalah amanah bagi kami. Dukungan orang tua yang luar biasa membawa STMJ dikenal secara luas. Prestasi kami bukan lagi sekadar lokal, terbukti pada Juli nanti, delegasi siswa kami akan berangkat ke China untuk bersaing di level internasional," ujar Farida penuh bangga.
Lebih dari Sekadar Ijazah
Pelepasan yang dihadiri oleh jajaran Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Ponorogo, Komite, dan Forkopimca ini menjadi bukti solidnya sinergi antara sekolah dengan pemangku kepentingan.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Ponorogo, Maskun, S.Pd., MM., mengapresiasi capaian ini.
Menurutnya, sinergi antara sekolah, orang tua, dan industri menjadi kunci sukses STMJ tetap menjadi primadona di Bumi Reyog.
Selain keterampilan teknis (hard skills), sekolah ini juga menitikberatkan pada pembentukan karakter dan kedisiplinan.
Bukan Sekadar Perayaan
Ketua Panitia, Samsul Arifin, ST, menekankan bahwa acara yang digelar tanpa toga dan wisuda mewah ini justru lebih bermakna.
"Cukup memakai almamater kebanggaan. Ini adalah simbol bahwa mereka siap dilepas ke masyarakat sebagai tenaga profesional, bukan sekadar perayaan seremonial," ungkapnya.
Ia menyebutkan bahwa 746 lulusan tahun ini adalah tenaga terampil yang siap pakai.
"Lulusan kami tidak hanya mengejar ijazah, tapi membawa kompetensi nyata. Baik yang melanjutkan ke perguruan tinggi, berwirausaha, maupun langsung bekerja, mereka memiliki fondasi yang kuat.
(Nang)

