KAJEN | Cyberpolri.id - Untuk mengantisipasi terganggunya proses pembelajaran akibat bencana alam
Dinas Pendidikan Kabupaten Pekalongan meluncurkan program SIPSEDAB . Program ini disiapkan agar kegiatan belajar mengajar tetap dapat berlangsung ketika terjadi bencana alam banjir, rob, maupun tanah longsor yang menghambat akses anak-anak menuju sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pekalongan, Kholid, mengatakan peluncuran SIPSEDAB ini merupakan bentuk inovasi untuk memastikan proses belajar mengajar tetap bisa berjalan sekalipun di tengah potensi bencana. Lebih jauh Kholid mengatakan , pengalaman bencana yang terjadi pada 2025 menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah dalam menyiapkan langkah antisipasi di sektor pendidikan.
“Ini terkait antisipasi apabila proses pembelajaran di Kabupaten Pekalongan terdampak bencana. Kita evaluasi pada tahun 2025 terjadi banjir, rob, maupun tanah longsor. Kondisi tersebut dapat mengganggu akses pendidikan anak-anak kita di Kabupaten Pekalongan,” kata Kholid, dikantornya.Senin,19/10/2026
Ia menjelaskan, SIPSEDAB diharapkan dapat memfasilitasi pembelajaran ketika siswa tidak memungkinkan mengikuti kegiatan belajar mengajar secara langsung di sekolah. Melalui sistem pembelajaran daring, siswa diharapkan tetap bisa memperoleh layanan pendidikan meskipun wilayahnya terdampak bencana.
“SIPSEDAB ini hadir untuk memfasilitasi proses pembelajaran apabila terjadi kondisi seperti itu. Semoga tidak ada bencana di wilayah Kabupaten Pekalongan, tetapi ini merupakan bentuk terobosan yang kita bangun untuk ke depannya,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, Dinas Pendidikan terlebih dahulu akan memetakan wilayah yang berpotensi terdampak bencana. Setelah itu, sosialisasi dilakukan secara bertahap kepada para guru, kemudian dilanjutkan kepada siswa agar mekanisme pembelajaran melalui SIPSEDAB dapat dipahami dan diterapkan ketika dibutuhkan.
“Beberapa wilayah yang sudah kita petakan akan diberikan sosialisasi terlebih dahulu kepada guru-guru. Setelah itu, sosialisasi dilanjutkan kepada anak-anak didik . Jadi, semuanya bisa mengetahui secara masif bagaimana proses pembelajaran melalui SIPSEDAB ini,” jelasnya.
Di katakan Kholid, wilayah prioritas mencakup kawasan pegunungan dan Pantura. Untuk daerah pegunungan, sosialisasi akan menyasar Petungkriono, Kandangserang , Lebakbarang ,serta sejumlah wilayah di Talun , Doro, dan Kajen. Sementara di kawasan Pantura, wilayah yang menjadi perhatian meliputi Wonokerto, Siwalan , Tirto, dan Wiradesa.
Selain menyiapkan mekanisme pembelajaran alternatif, Dinas Pendidikan juga akan berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan pihak terkait apabila terjadi bencana. Koordinasi tersebut diperlukan untuk memastikan informasi mengenai kondisi wilayah dapat diterima dengan baik sehingga langkah penanganan terhadap gangguan pendidikan bisa dilakukan secara terkoordinasi.
“Kalau terjadi bencana, tentunya kita juga berkoordinasi dengan BPBD. Semua yang terkait dengan kondisi seperti itu harus saling memberikan informasi, mulai dari bawah hingga ke BPBD,” pungkasnya ( win )


