Meninggal di Tepi Danau: Sore Sunyi untuk Keluarga Sarju

BOYOLALI  | Cyberpolri.id - Di tepian Danau Dukuh Bodeh, Desa Kedungmulyo, suasana yang biasa dipenuhi kecipak air dan tawa pemancing berubah menjadi sunyi yang tajam pada Kamis siang (8/10/2026). Sarju (68), warga Kecamatan Simo, yang berangkat memancing bersama dua rekannya sejak pagi, ditemukan tak bernyawa saat ia tiba-tiba roboh setelah mengeluh sakit.

Mereka pergi dari rumah sekitar pukul 10.00, membawa harapan sederhana: udara segar, sahabat, dan pekerjaan tangan yang menenangkan jiwa. Namun sekitar pukul 14.00, Sarju mulai merasa tidak enak badan dan meminta pulang lebih awal. Ia sempat berganti pakaian, tapi tiba-tiba muntah-muntah dan ambruk, meninggalkan rekan yang panik dan cemas di tepi danau yang teduh.

Saksi segera mengabarkan kejadian itu. Tim medis Puskesmas Kemusu, dipimpin dr. Sugito, datang dan menyatakan bahwa nyawa Sarju telah terhenti di tempat itu. Dugaan awal keluarga dan petugas mengarah pada riwayat penyakit jantung yang pernah ia derita—sebuah penjelasan hangat yang tak mampu menghapus rasa kehilangan yang mendalam.

Polisi dari Polsek Kemusu — Unit Reskrim dan Unit Samapta — melakukan pemeriksaan di TKP dan meminta keterangan para saksi. Mereka bekerja cepat namun penuh hormat, seiring keluarga yang datang memeluk satu sama lain, menahan air mata dan menerima kenyataan pahit itu. Keluarga memilih tidak menghendaki autopsi dan tak menuntut pihak mana pun; mereka hanya ingin membawa pulang jenazah untuk disemayamkan dan dimakamkan dengan tenang.

Kapolsek Kemusu, AKP Subiyanto, menyatakan prosedur telah dijalankan: pengecekan lokasi, keterangan saksi, dan koordinasi dengan petugas medis serta keluarga. Ucapan resmi itu menjadi latar bagi duka yang lebih dalam—kehilangan seorang ayah, tetangga, teman memancing yang meninggalkan kursi kosong di tepi danau.

Polsek mengimbau warga untuk selalu memperhatikan kondisi kesehatan saat berkegiatan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit. Namun imbauan itu hadir dalam hening yang getir bagi keluarga Sarju. Di rumah duka nanti, cerita-cerita sederhana tentang hari-hari memancing bersama akan bergema, menjadi saksi bahwa hidup yang tenang bisa berakhir tiba-tiba, meninggalkan rindang kenangan dan luka yang sulit disembuhkan.

Imam r

SPONSOR
Lebih baru Lebih lama